Angkutan Umum Tanpa Awak Pengemudi Mungkinkah ?

Berita Road Safety

Di era digital pengendalian pergerakkan dapat dari back office sebagai operation room. Pergerakkan rute jalur jaga jarak dan waktu pengoperasionalannya, kapan jalan, kapan berhenti. Semua bisa dikendalikan pada sistem otomatis. Operator od back office bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan operasionalnya kendaraan.

Makab petugas back office akan sangat sibuk monitoring dan mengendalikan kecepatan, prioritas bahkan kapasitas hingga emergensinya. Kewenangan petugas back office besar sekakigus juga tanggung jawabnya. Maka sistem penugasan inipun perlu diatur agar jangan sampai kelelahan. Demikian juga orang-orang yang akan mengoperasionalkannya perlu kompetensi yang memadsi sbg operator angkutan umum tanpa awak.

Sistem jalur khusus dan jalur mix traffic ini perlu ada sistem kontrol atau back up system pada lokasi pemberhentian atau halte yang menjadi black spot maupun trauble spot. Juga di kawasan interchange. Sistem manajemen operasional memerlukan adanya back office, aplication, network dan algoritma yg bs dilihat setiap saat dg cepat dan dsta yg real time. Dari back office sistem informasi komunikasi dsn solusi bisa dilakukan termasik pada sistem-sistem pelayanan publik maupun pada kondisi yang memerlukan tindakan kegawat daruratan.

Sistem sistem pendukung :

  1. Terminal dan tempat-tempat yang dijadikan inter change : a. Cc tv yang berfungsi Face recognation dan untuk memonitor kapasitas, b. Pintu2 elektronik c. E ticketing d. Sistem informasi digital e. Punnic botton, f. pos2 pelayanan.
  2. Halte : a. Cc tv yg berfungsi Face recognation dan untuk memonitor kapasitas, b. Pintu2 elektronik c. E ticketing d. Sistem informasi digital e. Punnic botton, f. pos pelayanan.
  3. Kawasan mix traffic : a. Cctv untuk monitoring system b. Sistem rekayasa lalu lintas terbatas c. Bantuan petugas penjagaan dan pengaturan di lapangan. e. Emergency system
  4. Kawasan persimpangan sebidang :
    a. Cctv untuk monitoring system yg dpt on line dg system pengaturan traffic light, b. Sistem rekayasa lalu lintas terbatas c. Bantuan petugas penjagaan dan pengaturan di lapangan. e. Emergency system
  5. Pada kendaraan : a. Dengan peralatan kontrol yg terkoneksi pd back office besar maupun pd pointb1sd 4. b. Sistem tap naik dan tap turun c. Kamera 2 cctv monitoring dan kontrol penumpang d. Punnic botton e. Sistem informasi perjalanan dg peta dan suara.
  6. Petugas inspeksi yg dpt melakukan kontrol dg sistem random.

Kesiapan secara managerial maupun operasional harus dibuat grand designya secara holistik atau sistemik. Sebagai model pendukung sistem smart mobility dan active transportation. Infrastruktur pendukung bagi back office, pada point 1 sd 6. Penyiapan aturan-aturan payung hukumnya. Sop sebagai standar prosedur pengoperasional. Panduan-panduan teknis yang mudah dilihat dipahami dan diimplementasikan. Penyiapan sdm yang akan mengawakinya dari edukasi training hingga coaching terus dilakukan.

Kesemuanya itu memerlukan : 1. Political will yg kuat 2. Tim transformasi sebagai wadah traffic board sbg back up system 3. Grand strategy, road map, sop, hingga panduan-panduan yang padat singkat jelas, 4. Infrastruktur dan system-sytem pendukungnya. 5. SDM yang mengawaki scr profesional. 6. Pilot project 7. Sistem monitoring scr umum n khusus terkait jd dg auditing . 8.pola poka pengembangannya.

CDL

Lier lier

31 Juli 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *