Chryshnanda Dwi Laksana: Delapan Poin Kesiapan dalam Pilkada yang Humanis

Road Safety

Penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) berikutnya sudah dalam posisi di pintu gerbang. Pilkada damai merupakan citra atau refleksi peradaban dan harga diri yang wajib kita jaga bersama. Harus ada kesepakatan dalam menandatangani etika pilkada yang berisi apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Untuk kali ini dan seterusnya, pilkada harus dilakukan dengan cara yang humanis. Demi hal itu, pilkada harus mengacu pada delapan poin kesiapan. Pertama, kesiapan piranti lunak seperti aturan-aturan, pedoman dan petunjuk. Kedua, kesiapan posko sebagai kantor pendukung atau pusat k3i (komando pengendalian, komunikasi, koordinasi dan informasi) yang siap melayani secara prima.

Ketiga, kesiapan latihan pra operasi. Kesiapan ketiga yaitu jejaring sampai dengan tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS). Kelima, kesiapan mitra sebagai kekuatan pendukung. Keenam, kesiapan personil untuk melaksanakan tugas di posko atau ruangan operasional, seperti satgas (preemtif, preventif, represif, rehabilitatif) maupun petugas di TPS dan petugas kontijensi.

Kesiapan ketujuh yaitu sarana dan prasarana untuk perorangan, unit, maupun kesatuan. Kedelapan, kesiapan anggaran yang bugeter maupun non bugeter.

Kekuatan akan perdamaian dan pengamanan dibangun melalui deklarasi damai yang disepakati semua pemangku kepentingan.

Pilkada merupakan suksesi kepemimpinan namun sebenarnya merupakan pesta budaya dan refleksi peradaban yang terselenggara dengan cara yang beradab. Setidaknya, poin-poin di atas dapat diimplementasikan. Selain itu, semua pemangku kepentingan sepakat menjaga marwah daerahnya dengan pilkada damai aman dan demokratis.

Oleh: Chryshnanda Dwilaksana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *