Gerakan Moral dari Rumah dan Implementasinya

Sosial

Rumah selain tempat berteduh berlindung juga tempat segala sesuatu dapat dimulai. Proses penyadaran pembangunan keteraturan sosial hingga peradaban semua dari rumah. Saat bersosialisasi secara virtual maupun aktual akan dapat dilakukan dari rumah. Rumah menjadi kekuatan dasar atau basis berbagai kekuatan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Penanaman nilai nilai kepekaan kepedulian hingga bela rasa bagi yang menderita bagi yang terpinggirkanpun dari rumah. Rumah yang homy atau yang nyaman asri aman dan ngangeni standarnya bukan pada kemewahan melainkan pada suatu rasa kemanusiaan ada aura pencerahan yang dapat dirasakan. Aura ini adalah sesuatu yang tak benda atau untangible. Sentuhan rasa pada yang tangible akan mampu membangun rasa yang untangible.

Dahulu di era presiden SBY ada gerakan rumah pintar mobil pintar yang digagas ibu Ani Yudhoyono diimplementasikan melalui perpustakaan dan kegitan literasi. Ini ide yang cerdas sayang rohnya hilang. Tatkala politik lebih dominan maka apapun sarat dengan seremonial dan kepura-puraan. Roh jiwa taksu chi maupun passion tidak muncul. Komitmen dan konsistensi tergantung perintah atau pamrih dan tidak akan berani nggetih. Dampak luas bagi hidup dan kehidupan seumur jagung.

Melalui gerakkan moral yang dibangun bottom up ini akan menjadi fondasi bagi hidup tumbuh dan berkembangnya kesadaran.

Gerakkam moral dari rumah tidak perlu sama karena konteksnya adalah untuk menanamkan nilai nilai kemanusiaan daru rumah. Saling menginspirasi, menjaga keteraturan sosial dari berbagi sisi atau berbagai model kegiatan. Misalnya kegiatan peduli lingkungan melalui gerakan ” bersih bersih dari rumah”. Mulai mengkategorikan hingga membuang sampah dimulai dari rumah. Menata rumah menjadi home sweet home, ” rumahku musiumku” “rumahku galeriku” dsb.

Apa yang ada di rumah memiliki nilai atau makna yang sangat berharga bagi hidup dan kehidupan. Kita pun bisa menggerakkan rumah pintar yang sudah ada. Menggelorakan rumah sebagai basis religi, seni, tradisi, hobi komuniti, hingga teknologi bisa dilakukan.

Tertib berlalu lintaspun dibangun dari rumah, karena keteraturan sosial ini akan dimulai saat keluar dari rumah. Secara moral niat kita sudah berupaya baik dan benar. Niat baik dan benar tatkala dapat tertanam dari rumah maka dalam hubungan sosial kemasyarakatan akan semakin mudah ditumbuhkembangkan.

Apa saja kapan saja dimana saja dengan cara apa saja dan siapa saja bisa.
1.Apa saja :
Memulai apa saja dari rumah bisa.

  1. Kapan saja
    Kapan saja waktunya bisa kita lakukan
  2. Dimana saja
    Rumah kita di mana saja bisa memancarkan aura dan nilai nilai budi luhur untuk peka peduli dan bela rasa kepada manusia maupun lingkungannya
  3. Dengan cara apa saja
    Dari cara manual hingga virtual bisa dilakukan
  4. Siapa saja bisa.

Apa saja kapan saja dimana saja dengan cara apa saja dan siapa saja bisa dimulai dari rumah untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sentuhan dari rumah menjadi sangat penting bagi munculnya keteraturan sosial bagi kekuatan untuk membangun solidaritas sosial dalam menjaga daya tahan daya tangkal hingga daya saing.

Tatkala dari rumah rumah ini terbangun karakternya dapat di tingkatkan dalam berbagai community of interest. Contoh kampung code yang dirintis dan bangun Romo Mangun Wijaya bersama para warga. Kampung tertib yang dibangun stake holder bidang lalu lintas. Rumah pintar yang menjadi ikon literasi.

Rumahku musiumku sebagai wujud kecintaan membangun rumah sebagai tempat apresiasi bagi seni budaya. Kampung seniman kampung warna warni. Dan banyak lagi yang telah ada dan dimulai oleh masyarakat.
Ini yang perlu dikemas dimaknai dan dimarketingkan.

Dari rumahpun dapat membangun masyarakat sadar wisata. Karena sadar wisata menjadi kekuatan untuk cinta tanah air lingkungan kampung hingga rumah kita masing masing. Sumber daya manusia adalah aset utama bangsa. Mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi hal yang utama dan pertama dan tanggung jawab kita bersama.

Tiada hari tanpa kebaikan dan perbaikan. Pembangunan nilai nilai moral dengan kesadaran tanggung jawab dan disiplin. Rumahku istanaku hidup tumbuh dan berkembang hingg kembali ke Sang khalik menjadi kebanggaan dan kecintaanku. Hidup adalah harapan tantangan perjuangan proses panjang pembelajaran dan nyali berbuat baik untuk kebaikan dan kebenarn agar semakin manusiawinya manusia.

*Chryshnanda Dwi Laksana

Jakarta, 19 sept 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *