“Hoegeng” Orang Baik dan Orang Penting; Sepotong Kisah Polisi Teladan

Sosial Uncategorized

Memang baik menjadi orang penting,
tapi lebih penting menjadi orang baik
(Hoegeng Iman Santoso).

Polisi ibarat sandal atau sepatu, semahal apapun tidak akan ditaruh di kepala, tetap saja ditaruh di kaki dan dijadikan alas. Pada saat pesta, bekerja atau bepergian atau dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan apabila kita tidak memakai sepatu atau sandal akan terlihat aneh atau mungkin juga bisa dibilang tidak normal.

Suatu negara yang modern menjaga keteraturan sosialnya dengan menjaga keamanan dan rasa aman. Di situlah kepolisian akan dibangun dan ditumbuhkembangkan. Akan aneh jika suatu negara bila tanpa polisi.

Polisi merupakan bagian dari masyarakat sekaligus produk dari masyarakatnya yang dalam penyelenggaraan tugasnya melalui pemolisian. Ada hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara polisi dengan masyarakatnya.

Prof. Satjipto Rahardjo mengatakan polisi yang baik adalah polisi yang cocok dengan masyarakatnya. Keberadaan polisi memang harus dekat dengan masyarakatnya. Kedekatan ini setidaknya harus dibangun secara sistematis, bukan sebatas kemampuan individual yang sifatnya parsial atau temporer. Kedekatan juga harus dinamis mengikuti perubahan dan perkembangan serta dinamika dari masyarakat yang dilayaninya. Mengapa demikian? karena untuk mencapai tujuannya dan berhasil menyelenggarakan tugasnya, perlu dukungan, bantuan dan legitimasi dari masyarakatnya. Polisi yang tidak dekat dan tidak dipercaya oleh masyarakatnya akan mengalami berbagai kesulitan dalam penyelenggaraan tugasnya bahkan bisa menjadi konflik dengan masyarakatnya.

Kedekatan dan kepercayaan masyarakat kepada polisi merupakan produk kinerja. Apabila kinerja pllisi dapat dirasakan secara signifikan oleh masyarakat dengan pelayanan prima kepolisian yang memberikan keamanan dan rasa aman maka masyarakat akan memberikan kepercayaan kepada Polri.

Polisi bekerja sejalan dengan kebijakan Kapolri yaitu Profesional, Modern dan Terpercaya (Promoter). Makna profesional secara umum dapat dijabarkan dalam indikator-indikator sebagai berikut: 1. Para pekerja/ petugasnya memiliki keahlian/ setidaknya memiliki kompetensi, 2. Pekerjaan yang dilakukan jelas dan terukur berdasar pada standardisasi input, proses maupun outputnya, 3. Produk-produk kinerjanya secara signifikan dapat dirasakan hasilnya oleh masyarakat dalam pelayanan publik yang memenuhi standar kecepatan, ketepatan, keakurasian, transparansi, akuntabilitas, informasi maupun kemudahan mengakses, 4. Etika kerja (do and dont serta sanksinya) berbasis pada SOP yang berisi job description, job analysis, standardisasi keberhasilan tugas, sistem penilaian kinerja, sistem reward and punishment.


Makna modern di era digital, tentu dilihat dari sistem-sistem yang dibangun ada back office, aplikasi, network, sehingga dapat memberikan pelayanan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu secara proaktif dan problem solving, yang didukung dengan sistem-sistem komunikasi, koordinasi, komando pengendalian dan informasi. Sistem-sistem modern ini dapat ditunjukkan adanya efektifitas, efisiensi dan memenuhi standar-standar pelayanan prima dengan petugas-petugas yang profesional.

Makna terpercaya adalah dapat diunggulkan dan kinerjanya dirasakan membawa manfaat bagi masyarakat dengan adanya keamanan dan rasa aman. Dan di dalam melakukan pelayanan kepada publik tidak melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan orang tidak percaya antara lain : 1. Memeras, 2. Menerima suap, 3. Menjadi backing yg ilegal, 4. Arogan, 5. Apatis/ masa bodoh/ tidak empati, 6. Anarkis/ melakukan kekerasan, 7. Berkata kasar, dan 8. Memprovokasi/ menabur kebencian/ menyulut konflik, dan lain sebagainya.

Figur seorang polisi yang ideal sebagai raw model memang harus di bangun. Model itu dapat kita ambil dari sosok Hoegeng Iman Santoso. Ia seorang polisi yang bersahaja, yang patut diteladani dari pemikirannya, sikapnya, gaya kepemimpinanya, keberaniannya, kecintaan dan kebanggaannya akan pekerjaannya sebagai petugas polisi.

Tidak mudah menjadi polisi dalam negara yang sedang menghadapi krisis. Sulit juga menjadi polisi yang ideal dalam ketidaknormalan. Idealisme Hoegeng sebagai polisi ia tunjukan kedekatannya kepada masyarakat. Ia menjadi penyiar radio elshinta, bermain musik di hawaian seniors, ia hadiri berbagai acara kemasyarakatan, bahkan saat ada konflik antara Taruna Akpol dengan mahasiswa ITB pun, Hoegeng sendiri turun tangan menyelesaikan. Betapa ia menyadari apa arti polisi tanpa dukungan masyarakat.

Polisi adalah produk masyarakat dan para polisi berasal dari masyarakat dan akan kembali kepada masyarakat pula. “Dadi polisi anane mung winates, dadi kawulo tanpo winates. Dadi Polisi kudu ono lelabuhane, ora ono lelabuhane ora ono gunane.”

Kedekatan saat ini bisa dibangun dengan sistem teknologi informasi seperti : email, website, blog, facebook, twiter, jaringan SMS, telp 110 juga sistem-sistem jejaring dan backup yang terpadu satu dengan yang lainnya. Namun ada yang dikedepankan sebagai hubungan komunikasi secara langsung dari hati ke hati yang memang masih diperlukan.

Melalui program Community Policing/ polmas setidaknya jaringan komunikasi akan terus dapat dibangun. Bisa juga melalui forum kemitraan polisi masyarakat. Polisi akan menjadi dekat apabila cepat merespon dan cepat bertindak bila ada laporan atau keluhan masyarakat. Dan polisi akan menjadi simbol persahabatan bila keberadaan polisi aman, menyenangkan dan bermanfaat bagi masyarakat.

Figur atau sosok pemimpin polisi seperti Hoegeng Iman Santoso masih relevan di ditumbuhkembangkan di era digital dalam membangun polisi yang profesional, modern dan terpercaya. Hoegeng Iman Santoso bisa dikatakan polisi luar biasa yang mempunyai keistimewaan yang dapat menjadi inspirasi dalam membangun polisi sipil dalam masyarakat yang demokratis. Mungkin secara konseptual Hoegeng tidak meninggalkan pemikiran-pemikiran atau konsep-konsep penting bagi kepolisian namun hidup dan kehidupanya dan prinsip-prinsip hidupnya menjadi luar biasa dan mengispirasi yang patut diteladani.

Pada saat Birokrasi mengagungkan nilai-nilai materialistik dan korup tentu tidak akan tersentuh profesionalismenya dan nuraninya karena yang dikembangkan pendekatan-pendekatan personal. Sikap dan pemikiran Hoegeng, bisa jadi malah menjadi duri dalam daging atau dianggap tidak mampu memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang dimilikinya. Hoegeng memang keras pada prinsip dan ia setia pada prinsipnya walau dia sendiri harus rela disingkirkan dan bahkan dicekal. Ia tetap saja mampu menikmati dan bangga dengan apa yang dia miliki dan ia memang konsisten dan konsekuen mengambil jalan akan hidupnya sebagai polisi.

Seseorang bangga pada profesinya karena merasa profesinya yang mulia, nilai-nilai hakikinya adalah kebenaran dan kemanusiaan. Selain itu ia memang layak dibanggakan karena mempunyai prestasi dan produk kerja yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan penegakan kebenaran.

Saat ia menjadi menteri iuran negara tetap saja ia berpakaian dinas kepolisian, begitu bangga dan mencintainya polisi yang ia sandang kemana-mana. Dalam konteks ini Hoegeng memang menjadi duta kepolisian di institusi lain. Ia sadar akan posisinya sebagai penegak hukum yang memang harus tegas, namun humanis. Ia berani menunjukan bahwa ada polisi yang layak dan mampu menjadi menteri yang baik.

Hingga kini Hoegeng masih dikenang dan bahkan dijadikan ikon polisi yang bersih. Gusdur dalam kelakarnya mengatakan : “Polisi yang tidak dapat disuap itu ada 3 yaitu patung polisi, polisi tidur dan pak Hoegeng”. Sebagai pemimpin yang loyal namun Hoegeng pun tergolong pemberani termasuk berani berkorban dan mengambil resiko dilepas dari jabatanya. Pada saat berseberangan dengan penguasa Orde Baru Ia berani mengatakan tidak walau masih dalam usia yang tergolong muda sudah dipensiunkan (Usia 49 Tahun). Ia tunjukkan sikapnya bukan sebagai pengemis jabatan. Hal itu ditunjukanya saat berani menolak sebagai duta besar di salah satu negara Eropa Timur.

Biasanya, pada saat menjabat seseorang serasa seperti dewa, penuh kuasa, puja dan puji semua menjilatnya tetapi saat tiada kuasa mulailah keluar semua syndrome-syndromenya bahkan penyakit-penyakitnya pun diundangnya kembali, bagai orang yang esok akan mati jangankan berprestasi, hidup pun sudah seperti tiada arti. Inilah yang dijungkir balikkan oleh Hoegeng. Ia tetap bersahaja dan menjadi dirinya sendiri sebagai polisi yang baik.

Hoegeng sebagai orang baik dan ia pun orang penting yang memiliki integritas yang mampu ia tunjukkan dalam pikiran, perilaku dan perbuatannya.

Hoegeng Iman Santoso sebagai polisi mampu memberikan teladan dalam kebenarannya sebagai polisi. Bahkan ia berani dicopot dari jabatannya oleh pak Harto saat ia berbeda pendapat atau tidak mau berkompromi dengan pelanggaran-pelanggaran yang diyakininya sebagai tindak kejahatan.

Polisi memang kumpulan orang baik yang profesional, cerdas, bermoral dan patuh hukum sebagai aparat yang humanis, tegas dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat yang dilayaninya. Semoga karakter ini terus diteladani polisi sepanjang masa. (CDL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *