Ingat Lagi, Bonceng Anak di Depan Bisa Kena Denda Rp250 Ribu

Road Safety

Beberapa waktu lalu, beredar rekaman video yang menampilkan kecelakaan di stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU. Pada kejadian itu, seorang anak yang dibonceng di jok depan motor tiba-tiba menarik tuas gas. Sehingga, kendaraan meluncur kencang dan menghantam orang lain di depannya.

Terlepas soal tarikan gas, membonceng anak di jok depan sebenarnya tidak diperbolehkan. Sebab, selain berbahaya lantaran membuat keseimbangan motor terganggu, hal itu juga melanggar aturan mengenai kapasitas angkut kendaraan.

Tidak Aman
Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu mengatakan, membiarkan anak duduk di jok depan motor bisa memicu kecelakaan berlalu lintas. Selain itu, posisi anak berpotensi menjadi ‘bantalan’ saat terjadi tabrakan. Sebab, motor tidak memiliki daya absorbsi layaknya mobil.

“Ini tentu sangat berbahaya bagi keselamatan anak. Harusnya, pemerintah membuat sosialisasi yang menyangkut keselamatan pengendara dan juga penumpang,” ujar Jusri kepada 100KPJ belum lama ini.

Memasangkan Kursi Tambahan

Lebih jauh, selain membiarkan anak duduk di jok depan, ada sebagian pemilik motor yang nekat memasangkan kursi tambahan di dekat setang kendaraan. Tujuannya, supaya tersedia cukup ruang bagi seorang anak untuk duduk. Padahal, kata Jusri, hal tersebut sama saja bahayanya.

“Saya juga enggak tahu kenapa tidak dilarang pemerintah, itu sama saja menjebak. Bahkan seakan-akan menganjurkan (boncengan anak), harusnya bisa disosialisasikan, kok enggak dilarang.”

“Ruang gerak pengemudi juga terbatas dengan penempatan bangku tambahan di depan. Harusnya pengemudi bisa bergerak dinamis ke kiri dan ke kanan saat membeokkan setang,” kata dia.

sumber : 100kpj.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *