Kamsel Talk Didi Riyadi: Pengguna Jalan Butuh Rasa Empati dan Solidaritas

Road Safety

Sebuah obrolan podcast Kamsel Talk yang dilakukan oleh Brigjen Pol Prof. Dr. Chryshnanda Dwi Laksana, M.Si. dengan musisi dengan bintang tamunya musisi sekaligus aktor film Didi Ryadi membahas perilaku para pengguna lalu lintas. Yang menjadi sorotan dalam obrolan ini adalah perbuatan tidak disiplin oleh pengguna lalu lintas seperti melawan arus, parkir di sembarang tempat atau pengguna sepeda motor yang tidak menggunakan helm.

“Kalau dikasih tau nanti malah marah duluan,” seloroh Chryshnanda menanggapi perilaku pengguna lalu lintas yang tidak terima ditegur atas pelanggarannya. “Biasanya yang melawan arus justru yang lebih galak,” ucap Didi menanggapi.
Menurut Didi, pelanggar harus punya kesadaran tinggi bahwa dirinya salah.

Yang terjadi biasanya justru yang bersalah yang lebih emosional. Menurutnya, pengguna lalu lintas tidak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri. “Yang harus disadari oleh semua pengguna lalu lintas bahwa jika seseorang melakukan pelanggaran maka dampaknya akan ke orang lain juga,” tambahnya.

Menurut Didi, saat ini pada umumnya pelanggar lalu lintas bersikap tidak peduli pada sekeliling dan melakukan pelanggaran tanpa rasa terbebani. Didi mengingatkan jika dampak pelanggaran lalu lintas yang menimpa pengguna jalan lain bisa saja berbalik kepada si pelanggar. Didi berharap si pelanggar bisa merasakan jika celaka dialami dirinya atas dasar kesalahan orang lain. Chryshnanda memaknai ucapan Didi ini dengan ungkapan “harus ada rasa empati” dari setiap pengguna jalan.

Chryshnanda mengatakan, “Kita jangan menganggap remeh atau menyepelekan. Kita harus memiliki suatu empati. Jangan sampai kita memberikan masalah bagi orang lain.

Didi sendiri mengakui dalam keseharian berlalu lintas, ia merasa geram jika melihat orang lain melanggar lalu lintas yang bisa menyebabkan kemacetan, kecelakaan dan segala hal yang mempersulit orang lain. Chryshnanda pun menimpali ucapan Didi dengan ungkapan “kita jangan serampangan atau sembarangan.”Menurut Chryshnanda ketika kita melakukan pelanggaran maka orang lain yang akan merasa jengkel, begitu juga sebaliknya.


Ketika membahas mengenai pengemudi angkutan umum yang ugal-ugalan, Didi menilai para pengemudi itu bekerja sekehendak hatinya saja tanpa memikirkan keselamatan penumpang di dalamnya.


“Ugal-ugalan merefleksikan bahwa kita ini sengaja. Jika seseorang mau celaka maka jangan libatkan orang lain,” ucap Chrishnanda. Menurutnya, sumber daya manusia adalah aset bangsa maka jangan menyia-nyiakannya karena kesalahan dalam berlalu lintas.

Didi berpesan agar pengendara selalu mengingat bahwa di rumah kita masih ada yang menunggu kita. Dengan selalu mengingat hal ini maka pengendara akan berhati-hati. Menurutnya, dampak buruknya bukan cuma kematian tapi juga kecacatan. “Jadilah pengguna jalan yang baik, tertib berlalu lintas demi keamanan bersama,” himbaunya.


Didi juga berpesan agar pengendara disiplin berlalu lintas jangan egois karena banyak orang lain juga menggunakan jalan. Terakhir, ia mengatakan bahwa disiplin itu dimulai dari diri sendiri. (red-RS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *