Kamtibmas Kondusif Masyarakat Semakin Produktif

Sosial

Pada masa pandemi Covid-19 situasi kehidupan sulit dalam jangka waktu yang tidak menentu. Kehidupan warga masyarakat di berbagai lini terdampak, produktifitas dari yang menurun sampai yang minuspun ada. Tatkala produktivitas terhambat maka kehidupan semakin sulit.

Berbagai sektor usaha menengah ke bawah tak sedikit yang harus gulung tikar terutama pada kawasan pariwisata maupun berbagai jasa yang manual. Kondisi yang sulit ini akan berdampak pada munculnya berbagai potensi konflik. Isu-isu provokatif yang kontra produktif pun berhembus. Tatkala daya nalar tergerus dan emosi tak terkendali, design perusakan sosial akan lebih mudah dilakukan. Apa yang menjadi isu di dalam masyarakat seolah diaspora yang muncul di mana-mana dan sarat dengan primordialisme.

Kekuatan pada komunitas dalam menjaga keteraturan sosial adalah mampu mengatasi provokasi dan menangkal hembusan kebencian yang dapat dibangun melalui solidaritas sosial. Untuk saling menjaga, mengawasi, menguatkan, berbagi dan berbela rasa, hidup dan kehidupan di masa new normal memerlukan spirit bangkit sebagai upaya pemulihan. Hadirnya kekuatan-kekuatan sosial dalam kemitraan dan berbagai langkah solusi menjaga keteraturan sosial adalah menemukam apa yang menjadi solusi mengatasi pain point atau kesakitan/ kesulitan hidup masyarakat. Solusi-solusi cerdas di era new normal selain membiasakan hidup dengan standar protokol kesehatan adalah juga hidup dalam berbagai cara yang dapat dijalankan secara virtual.

Keteraturan sosial atau kamtibmas di era new normal dapat dibangun dalam komunitas maupun lalu lintas. Pada komunitas ini berbasis kepentingan untuk menghasilkan produksi. Sementara itu, lalu lintas merupakan urat nadi pendukung aktifitas yang menghasilkan produksi. Suatu masyarakat dapat bertahan hidup, tumbuh dan berkembang bila ada produktifitas yang dihasilkan dari aktifitas yang mobilitasnya melalui lalu lintas. Dengan demikian, keamanan dan rasa aman merupakan bagian penting yang dibangun pada komunitas. Keamanan dan rasa aman juga diciptakan oleh lalu lintas yang aman, selamat tertib dan lancar.

Pada proses produktifitas ada ancaman, hambatan dan gangguan yang menghambat bahkan mematikan produktifitas tersebut. Maka dari itu, peran dan fungsi polisi melalui pemolisiannya adalah bagaimana mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial di dalam komunitas maupun lintas. Pewujudan dan pemeliharan keteratuan sosial bukan semata mata secara aktual namun juga virtual. Model community policing atau polmas dapat menjadi strategi dan filosofi pemolisian untuk dilakukan dengan proaktif dan problem solving. Community Policing membangun kemitraan dan mengutamakan pencegahan serta upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan terjaminnya keteraturan sosial pada lalu lintas maupun komunitas. Selain itu, polisi dapat menjadi ikon cepat, dekat dan bersahabat dengan warga yang dilayani.

Di era new norma yang merupakan masa digital/ era revolusi industri 4.0 model pemolisian juga berbasis pada IT atau elektronik yang dibangun dalam sistem-m-sistem sinergis yang saling terhubung (on line). Prinsip-prinsip sistem online adalah adanya back office yang dapat berfungsi sebagai operation room atau control room sebagai pusat k3i (komunikasi, koordinasi, komando pengendalian dan informasi). Back office juga berfungsi sebagai call and comand centre dan dilengkapi sistem-sistem aplikasi yang berbasi artificial intellegent maupun network yang berbasis internet of things. Sistem-sistem tersebut dalam pemolisiannya dapat dikatakan sebagai Electronic Policing sebagai model pemolisian di era digital.

Model penjagaan keteraturan sosial dalam komunitas maupun lalu lintas secara elektronik pada prinsipnya merupakan sistem-sistem back office aplication maupun network yang saling terhubung. Sistem back office juga dapat memonitor, memantau komunikasi dan informasi serta solusi sebagai pelayanan kepada publik. Pelayanan kepolisian kepada publik mencakup: pelayanan keamanan, pelayanan keselamatan, pelayanan hukum, pelayanan administrasi, pelayanan informasi dan pelayanan kemanusiaan.

Pelayanan-pelayanan tersebut pada komunitas maupun lalu lintas di era pandemi Covid-19 adalah untuk menyatukan dan mensinergikan seluruh stake holder sebagai soft power dalam solidaritas sosial.

Pelayanan kepada publik di era new normal dituntut adanya pelayanan yang prima (cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel informatif dan mudah diakses). Melalui e-policing pada komunitas maupun lalu lintas diharapkan segala sesuatu terpantau bahkan mampu membantu proses recovery dan penjagaan keteraturan sosial. Era new normal juga banyak isu yang provokatif atau hoax dalam era post truth yang berpotensi membodohi, mengaduk-aduk emosi, provokasi dan memicu konflik sosial.

E-policing sebagai jembatan solidaritas sosial akan dapat dilihat dalam algoritma info grafis, info statistik, info virtual yang real time dan dapat diakses secara on time maupun any time. Prediksi, antisipasi dan solusinya dapat dilakukan secara holistik atau sistemik. Melalui sistem-sistem on line yang berbasis pada big data dan pelayanan prima maka tingkat profesional, kecerdasan, moralitas dan modernitas dapat secara simultan dibangun untuk adanya kepercayaan dari publik.

Keberhasilan polisi dalam pemolisiannya bukan semata mata pada pengungkapan kasus atau perkara melainkan juga mana kala keteraturan sosial/ kamtibmas dapat terwujud dan terpelihara. Karena, apapun alasan maupun pembenarannya, segala sesuatu yang kontraproduktif itu social costnya sangat mahal dan dapat berdampak luas. Keamanan keselamatan ketertiban kelancaran semua demi kemanusiaan karena sumber daya manusia adalah aset utama bangsa yang harus dijaga, dicerdaskan dan terus ditingkatkan kualitas hidupnya. (Cdl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *