Polisi Ikon dan Pembangunan Peradaban ?

Berita

Polisi merupakan institusi profesi yang diawakili oleh orang orang yang profesional. Tatkala mengatakan profesi dan profesional maka menjadi polisi atau bekerja pada bidang kepolisian dituntut memiliki kompetensi atau keilmuan yang mendukung profesi kepolisian.

Ini merupakam bagian penting dan mendasar dipahami bahwa profesi yang diawaki oleh petugas yang profesional. Di samping itu juga didukung sistem-sistim yang berbasis pada kinerja atau pendekatan yang impersonal bukan pendekatan personal.

Loyalitas kini bangsa negara masyarakat maupun individu bagi meningkatnya kualitas hidup masyarakat. Meningkatnya kualitas hidup masyarakat ditandai adanya keamanan danbrasa aman. Keberadaan polisi mampu menjadi ikon bagi kecepatan kedekatan dan persahabatan.

Polisi dalam konteks pemolisiannya melakukan cara cara proaktif, problem solving, keberadaannya mampu mengurangi rasa ketakutan masyarakat akan adanya gangguan kejahatan atau hal-hal yang kontra produktif, mampu melakukan pencegahan.

Polisi yang profesional dibangun dari sistem-sistim yang profesional juga yang basisnya pada ilmu kepolisian. Konteks ilmu kepolisian yang menjadi acuan bagi polisi dan pemolisiannya adalah yang berkaitan dengan :

1. Masalah sosial,

2. Keteraturan sosial

3. Hukum dan keadilan penegak hukum dan penegakkan hukum

4. Kejahatan pencegahan dan penangannannya

5. Teknik dan teknis kepolisian preentif preventif represif maupun rehabilitasi

6. Corak masyarakat dan kebudayaannya

7. Issue- issue penting yang terjadi dalam masyarakat. Konteks itulah yang kompleks tidak sesederhana bayangan atau pandangan umum. Sejalan dengan pemolisian dalam negara yang demokratis maka ilmu kepolisian dan pemolisiannya diimplementasikan berdasar pola pola pemolisian yang berbasis kearifan lokal walaupun secara umum sama.

Pemolisian dalam masyarakat yang modern dan demokratis dikembangkan berbasis E policing atau electronic policing sebagai model pemolisian di era digital. Dalam masyarakat yang demokratis landasan dasarnya setidaknya berbasis pada:

1. Supremasi hukum, hukum sbg panglima atau landasan pemolisian. Walaupun polisi sebagai penegak hukum dan keadilan.

2. Mampu memberikan jaminan dan perlindungan HAM

3. Tansparansi

4. Akuntabilitas kepada publik

5. Berorientasi pada peningkatan kualitas hidup

6. Adanya pembatasan dan pengawasan kewenangan kepolisian. Implementasi modern melalui E-policing dibangun back office sebagai pusat komunikasi komando pengendalian koordinasi dan informasi, application yang berbasis artificial intellegence, dan network yang berbasis internet of things.

Disamping itu sistem smart management yang diawaki cyber cops akan mampu menghasilkan algoritma yang menjadi prediksi antisipasi dan solusi. Melalui info grafis, info statistik, info virtual yang real time, any time dan on time.

Peradaban dibangun atas adanya keteraturan sosial meningkatnya kualitas hidup masyarakat. Tatkala dalam kehidupan sosial keteraturan sosial tidak dapat dikendalikan atau dijaga, maka tingkat produktifitasnya dipertanyakan kualitasnya.

Selain itu, keteraturan sosial yang tidak terwujud atau tergerus sarat konflik sosial maka keamanan dan rasa amannya dapat dikatakan jauh dari harapan bagi mendukung tingkat produktifitas masyarakat.

Oleh sebab itu keteraturan sosial menjadi sangat penting dan menjadi bagian dari hidup dan kehidupan sosial. Penataan keteraturan sosial dalam konteks membangun peradaban perlu dibangun suatu sistem art policing atau pemolisian berbasis pada seni budaya.

Seni yang merupakan refleksi kewarasan dari suatu peradaban kaitannya dengan keteraturan sosial adalah membangun suasana dalam rekayasa sosial yang aman nyaman asri ngangeni.

Keamanan dan rasa aman benar benar terjamin. Penataan keteraturan sosial ditata dalam konteks kemanusiaan demi semakin manusiawinya manusia. Seni dalam keteraturan sosial dapat direfleksikan dalam ruang ruang publik atau pada tempat tempat pelayanan publik yang memiliki cita rasa seni.

Dalam mewujudkan pelayanan kenyamanan keasriaan kepuasan publik pun menjadi standarnya. Polisi dalam menata mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial melalui pemolisian atau policing. Pemolisian yang dilaksanakan secara proaktif dan problem solving bukan semata mata dalam ranah represif atau upaya paksa.

Namun ada upaya upaya penyadaran atau membangun kesadaran tanggung jawab dan disiplin melalui kemitraan dan literasi. Pemolisian bagi manusia dan kemanusiaan. Di sinilah seni menjadi jembatan hati penyadaran tanggung jawab dan disiplin dalam mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial.

Kecerdasan dan kemampuan mengatasi dan mencegah konflik dan potensi konflik melalui saluran komunikasi sosial dan membangun solidaritas sosial. Peradaban bagi manusia dinamis dan terus berubah mengikuti perubahan jaman dan kemajuan manusia.

Dinamika perubahan dalam hidup dan kehidupan manusia penataan keteraturan sosial memerlukan adanya kenyamanan keindahan keasrian bahkan situasi yang asri dan ngangeni.

Di situlah seni berfungsi bahkan pada pemanfaatan teknologi sekalipun. Pemolisian dengan pendekatan seni, melalui ruang ruang dialog antara rasa dalam jiwa dalam mentransformasi berbagai peraturan ketentuan hingga kesepakatan kesepakatan sosial.

Seni menjembatani antara pikiran dan hati nurani dalam implementasinya yang terwujud dari kesadaran tanggung jawab dan disiplin yang peka peduli dan berbela rasa kepada sesama demi semakin manusiawinya manusia.

Hukum merupakan kesepakatan produk politik yang menjadi ikon peradaban dalam mewujudkan dan merawat keteraturan sosial. Dengan demikian penegak hukum dan penegakkannyapun menjadi bagian dari pembangunan peradaban.

Polisi sebagai penegak hukum merupakan pembangun peradaban untuk semakin manusiawinya manusia. Mengangkat harkat dan martabat manusia. Memberantas premanisme dalam maupun luar birokrasi.

Membasmi organize crime maupun crime in organization. Korupsi kolusi dan nepotisme sebagai perusak peradaban ini juga dikikis semaksimal mungkin atau setidaknya hampir hampir tidak ada peluang penyimpangan untuk merebaknya korupsi kolusi dan nepotisme.

Sistem sistem elektronik merupakan inisiative anti korupsi dan reformasi birokrasi yang memangkas dan membongkar kaum di zona mapan nyaman dan aman dengan kroni dan klik-klik nya. Sistem sistem pendekatan personal berdampak pada layu dan buknya kekuatan di tengah yang berdampak pada apatis bahkan PGPS ( pinter goblok penghasilan sama).

Polisi membangun peradaban dimulai dari pemimpin dan kepemimpinanya pola-pola administrasi dan operasional serta sistem-sistem pelayanan publiknya. Smart management akan menggerakkan revolusi mental merubah mind set hingga culture set nya membongkar core value yang sarat KKN menjadi berbasis kinerja dan berorientasi pada pencapaian peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Dan juga trust atau tingkat kepercayaan yang tinggi dari masyarakat karena kinerja dan sistem-sistem nya profesional diawaki petugas-petugas profesional cerdas bermoral dan modern.

Penulis : Chryshnanda Dwi Laksana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *