Problem Solving Policing: Menyelesaikan Masalah Secara Proaktif Tanpa Menimbulkan Masalah (Bagian 1)

Road Safety

Polisi melalui pemolisiannya bertujuan untuk mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial.

Pemecahan masalah yang dilakukan polisi tentu dimaknai lebih luas dalam konteks pencegahan atau pada tindakan preemtif dan preventif walaupun dapat juga dikaitkan dengan mengatasi masalah saat kejadian.

Pemolisian proaktif yang mampu memecahkan masalah dapat dikatakan sebagai upaya pencegahan. Makna proaktif adalah tetap bekerja meskipun ada atau tidak ada masalah.

Analoginya, menurut Profesor Sarlito seperti PLN yang bekerja bukan hanya saat listrik mati. Hal itu karena menjaga agar listrik tetap hidup dan saat listrik mati mampu mengatasi masalah dengan cepat. Demikian halnya dengan problem solving policing yang secara proaktif menjaga keteraturan sosial dengan terjaminnya keamanan dan rasa aman untuk mendukung produktivitas masyarakat.

Problem solving policing berbasis pada sistem data pada komunitas maupun lalu lintas. Langkah-langkah menerapkan problem solving policing di era digital dilakukan melalui sistem back office sebagai operation room atau pusat komando pengendalian, monitoring, komunikasi dan informasi. Problem solving policing didukung berbagai sistem aplikasi yang merupakan inputing data system berbasis artificial intellegent dangan net work yang berbasis internet of things.

Sistem-sistem online yang saling terhubung sebagai bentuk implementasi e policing pada komunitas menghasilkan beberapa sistem. Sistem-sistem tersebut yaitu sistem peta digital, sistem data warga masyarakat, sistem pemantauan pada tempat-tempat publik, sistem patroli kawasan atau patroli komunitas, sistem kunjungan komunikasi warga, sistem call and comand centre ( contoh 110, dsb), pannic botton atau tombol darurat, pola penanganan masalah emergency maupun kontijensi, sistem pencerahan atau dikmas, membangun kemitraan dalam wadah forum atau kelompok kemasyarakatan, pemberdayaan babinkamtibmas dan pos polisi, program-progtam kemitraan dan kemasyarakatan seperti kampung tertib, gerakan moral dari rumah, rekayasa sosial /social engineering dan sebagainya. (bersambung)

Oleh: Chryshnada Dwi Laksana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *