Road Safety Policing, Penyempurnaan Sistem Keselamatan Lalu Lintas Lewat Literasi dan Teknologi Digital

Road Safety

Situasi lalu lintas memang tidak bisa dijamin bebas dari kasus kecelakaan yang melibatkan kendaraan dan pengguna jalan. Bahkan, menurut data dari Korlantas Polri pada Maret 2020, setiap satu jam ada tiga nyawa melayang karena kecelakaan di jalan. Yang sangat disayangkan, angka korban tewas tertinggi ada pada usia produktif (15-29 tahun).


Persentase volume kecelakaan yang terjadi cukup besar di atas 50-70 persen dengan angka kematian 25 ribu selama setahun. Berdasarkan data dari Korlantas juga, kecelakaan yang menyebabkan hilang nyawa itu umumnya terjadi karena kedisiplinan berkendara dan kesadaran lalu lintas yang masih rendah.


Meskipun sejumlah aturan, rambu lalu lintas dan pengaman jalan telah dibuat, tak semua pengguna lalu lintas disiplin dalam menerapkan keselamatan berkendara atau road safety. Angka kecelakaan lalu lintas ini bisa dikurangi dengan upaya perbaikan diri sendiri dan tanggung jawab ketika berkendara.


Berbagai pendekatan telah dilakukan oleh Korlantas Polri telah menerapkan road safety policing untuk menekan resiko kecelakaan lalu lintas. Metode pemolisian ini menggunakan pendekatan literasi dan digitalisasi atau e-policing.

Menurut Direktur Keamanan dan Keselamatan Lalu Lintas (Dirkamsel) Korlantas Polri, Brigjen Pol Chrysnanda Dwilaksana, Road Safety bisa dimaknai sebagai lalu lintas yang aman selamat tertib dan lancar. Policing bisa dimaknai sebagai pemolisian yaitu segala upaya kepolisian pada tingkat manajemen maupun operasional dengan atau tanpa upaya paksa untuk memelihara keteraturan sosial. Jadi, road safety policing dapat dipahami sebagai pemolisian untuk mewujudkan dan memelihara lalu lintas yang aman, selamat, tertib, dan lancar.

Pemolisian di bidang road safety antara lain dengan dibuatnya TMC (Traffic Management Centre), SSC (Safety and Security Centre), ERI (Electronic Registration and Identification), SDC (Safety Driving Centre), INTAN (Intelligence Traffic Analysis), Smart Management dan Cyber Cops.

Selain itu, Road Safety Policing membangun petugas polantas yang profesional, cerdas, bermoral dan modern dengan membangun literasi keselamatan berlalu lintas, pelatihan keselamatan berlalu lintas, membangun tim transformasi yang berisi perwakilan pemangku kepentingan yang membantu dan membangun ARSI (Asosiasi Road Safety Indonesia).

Kemudian, program-program di bidang keamanan dan keselamatan lalu lintas, bidang penegakan hukum, bidang registrasi dan identifikasi, bidang operasional, di bagian merancang dan maintenance up grade dan up dating system IT for road safety yang berbasis AI dan IOT.

Di antara sistem pendukung Road Safety Policing yaitu Smart Management yang merupakan sistem cerdas bagi polisi siber dan menjadi tuntutan dan kebutuhan bagi implementasi e policing di bidang lalu lintas. Penerapan smart management di antaranya pada sistem monitoring, sistem informasi dan komunikasi, sistem reaksi cepat, patroli virtual dan aktual, pelayanan publik dan pengimplementasian program-program kepolisian khususnya program Korlantas.

Sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh smart management di antaranya aplikasi, jaringan IT yang mutakhir, sistem pelaporan secara digital (Electronic Reporting System), analisis intelijen melalui medsos (SocMed Inteligency Analysis) dan analisis pemecahan masalah.

Komponen Road Safety Policing bisa digunakan sesuai karakter daerah yang menerapkannya. Jadi, Road Safety Policing sangat fleksibel karena setiap daerah bisa berbeda dalam penerapannya. (red-RS)

Sumber: antaranews.com, humas.polri.go.id

Foto: Beritabuana.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *