“Smart Policing” Langkah Kepolisian Antisipasi Covid-19

Berita

Indonesia tengah dilanda pandemik virus Covid-19 atau lebih dikenal Corona. Polisi dituntut cerdas dalam pemolisiannya (smart policing) untuk memelihara dan mewujudkan keteraturan sosial dalam menghadapi banyak potensi konflik, masalah sosial.

Smart policing ini bukanlah sekadar penggunaan IT, tetapi polisinya menjadi super (super cops) kompetensinya, bahkan kewenangannya yang mampu melayani masyarakat dalam kondisi ekstrim sekalipun.

“Kompetensi dalam memberikan pelayanan kepada publik secara prima yang cepat, tepat, akurat, transparan akuntabel, informatif dan mudah diakses dibutuhkan kesiapan pelayanan-pelayanan kepolisian kepada publik dalam bidang pelayanan keamanan, keselamatan, administrasi, informasi, hukum dan kemanusiaan,” jelas Direktur Keamanan dan Keselamatan (Dirkamsel) Korlantas Polri Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana, Minggu (15/3).

Dia menuturkan membangun pemolisian yang cerdas ( smart policing ) di era digital diperlukan political will yang cerdas. Kebijakan yang cerdas adalah kebijakan yang visioner dan mampu mengantisipasi dan dikembangkan menjadi solusi. Kebijakan ini menjadikan suatu tonggak inspirasi yang merupakan prinsip-prinsip mendasar dan berlaku umum.

“Satu prinsip seribu gaya. Bagi anak buahnya dapat melakukan pengembangan-pengembangan sesuai dengan nilai-nilai lokal yang ada. Atau sesuai dengan corak masyarakat dan kebudayaannya,” kata dia.

Kata-kata “smart” memang sedang menjadi pilihan atau harapan adanya perubahan. Amanat konstitusi bangsa adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Pemimpin yang cerdas senantiasa memikirkan apa yang baru, apa yang membuat masyarakat bangga, yang berefek pada kepercayaan publik yang tinggi. Hal tersebut dampak dari kerja profesional yang didukung dengan modernisasi kepolisian dan kepercayaan merupakan buah dari pelayanan-pelayanan yang prima,” ungkap dia.

Tatkala kita membangun sistem pemolisian sebagai model yang perlu diperhatikan adalah masukan (input), proses (cara mencapainya) maupun keluarnya (output), yang memerlukan adanya standar-standar baku sebagai pedoman operasionalnya (SOP).

Membangun pemolisian yang cerdas di era digital merupakan solusi model pemolisian yang dapat ditumbuhkembangkan dalam konteks masalah sosial dan isu penting yang dihadapi kepolisian.

“Dengan demikian petugas polisi mampu tetap eksis di dalam kondisi normal khusus bahkan kondisi yang ekstrim sekalipun. Polisi tetap sebagai penjaga kehidupan pembangun peradaban sekaligus pejuang kemanusiaan,” jelas dia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *