Warga Pingsan di Hari Pencoblosan, Personel Polsek Bontoala Langsung Bertindak

Berita Sosial

Bontoala Tua, Sulsel – Tak disangka akibat kelelahan, Ketua PPS di Tps 2 kelurahan Bontoala Tua Pingsan saat pemungutan suara. Untungnya personil Polsek Bontoala Polrestabes Makassar cepat merespon dengan langsung membawanya kerumah sakit untuk mendapat perawatan medis.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa hari Rabu (9/12/20) Pilwalikota Makassar sedang berlangsung dimana warga kota Makassar menentukan pilihannya akan kepemimpinan kota makassar selanjutnya.

Sama halnya dengan TPS 2 kel Bontoala Tua, saat berlangsung pemungutan suara tiba tiba ketua pps pingsan diduga kelelahan. Dengan sigap personil Polsek Bontoala yang pengamanan di TPS tersebut langsung menolong dan membawa kerumah sakit untuk mendapat perawatan medis.

Identitas wanita tersebut bernama Rita (52), alamat Jalan Lamuru Kel. Bontoala Tua, Kec. Bontoala, dimana wanita tersebut merupakan Ketua Pps 2 kel Bontoala Tua kecamatan Bontoala.

Ditemui terpisah Kapolsek Bontoala Kompol Andriyani Lilikay membenarkan bahwa saat pencoblosan ketua PPS di TPS 2 kel Bontoala Tua kecamatan Bontola pada saat itu pingsan diduga akibat penyakit yangbdideritanya yakni mengalami asam lambung namun dpt di tolong akibat kesigapan personil jajarannya yang langsung membawa ke rumah sakit.

Aksi personel Polsek Bontoala yang sigap membantu warga yang pingsan saat pencoblosan merupakan salah satu upaya yang dapat menumbuhkan empati masyarakat terhadap keberadaan Polri.

Dalam rangka membangun empati antara Polri dan masyarakat, perlu dipahami kedua kemampuan ini yakni kemampuan saling mempercayai dan kemampuan empati. Empati adalah kunci membina kepercayaan dari masyarakat. Rasa percaya atau trust relevan sekali dalam kondisi sosial tertentu.

Dalam kehidupan masyarakat, Polisi memainkan banyak peran sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Mengatur lalu lintas, menegakkan hukum, menyidik perkara, memelihara keamanan dan ketertiban, dan melindungi keselamatan warga negara adalah sebagian dari tugas polisi. Istilah yang sering digunakan adalah melayani, melindungi, dan mengayomi.

Walaupun peran polisi sangat banyak, atau karena peran polisi sangat banyak, pengetahuan masyarakat mengenai polisi, motif polisi, dan tanggapan atau respons polisi, sangat terbatas.

Ada ketidaktahuan dan ketidakpastian di masyarakat luas mengenai kinerja polisi. Pada saat yang sama, dengan peran yang banyak tersebut, yang disertai dengan kewenangan yang dimiliki polisi berdasarkan konstitusi dan undang-undang, polisi memiliki peluang dan kesempatan untuk mengecewakan harapan-harapan masyarakat. Anggota Polri ada yang melakukan korupsi, pungutan liar, dan penyalahgunaan wewenang lainnnya.

Supaya kepercayan pulih, Polri bisa mengembangkan norma dan kode etik yang mewajibkan anggota supaya tidak mengkhianati warga masyarakat yang memercayainya.

Jika warga masyarakat bertemu dengan banyak polisi yang jujur, dan hanya sesekali mendapatkan polisi yang tak jujur, maka kepercayaan masyarakat akan meningkat. Selanjutnya, polisi akan memiliki reputasi atau nama baik. Kalau institusi Polri memiliki reputasi dan nama baik, anggota polisi akan merasa berkepentingan menjaga reputasi dan nama baik polisi di mata warga negara. Pada gilirannya pula, masyarakat akan semakin mempercayai polisi.

Polisi yang memiliki empati tinggi memiliki kemampuan menyelesaikan masalah yang lebih tinggi juga. Karena polisi berusaha memahami dan peduli dengan kebutuhan, kepentingan, dan keprihatinan masyarakat, maka polisi memiliki bekal informasi dan pengetahuan yang diperlukan supaya profesinya dapat dijalankan lebih baik.

Sumber https://tribratanews.sulsel.polri.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *